Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 46

Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 46by masbroon.Cerita Sex My HEROINE [by Arczre] – Part 46My HEROINE [by Arczre] – Part 46 BAB IV: DENIED AND RUN Laras, seperti biasa pagi itu mandi, dandan yang cantik memakai seragamnya untuk pergi ke mini market sesuai dengan pekerjan dia sehari-hari sebagai seorang kasir. Pagi itu ia disambut oleh kicauan elemen-elemen, udara, air yang bergerak bersama embun, tanah yang tetap dan keras, besi-besi […]

multixnxx-Black hair, Short hair, Asian, Bikini, Dog-2 multixnxx-Black hair, Short hair, Asian, Bikini, Dog-3 multixnxx-Black hair, Short hair, Asian, Bikini, Dog-4My HEROINE [by Arczre] – Part 46

BAB IV: DENIED AND RUN

Laras, seperti biasa pagi itu mandi, dandan yang cantik memakai seragamnya untuk pergi ke mini market sesuai dengan pekerjan dia sehari-hari sebagai seorang kasir. Pagi itu ia disambut oleh kicauan elemen-elemen, udara, air yang bergerak bersama embun, tanah yang tetap dan keras, besi-besi yang telah terbentuk membeku di antara suhu normal. Udara sejuk, tak ada celah sedikit pun bagi kegerahan di pagi yang indah ini.

Langkah laras untuk menuju tempatnya kerja mantab. Dari kejauhan dia melihat ibu angkatnya datang setelah “dinas” tadi malam. Mereka pun berpapasan.

“Berangkat kerja?” tanya Ningsih.

“Iya ma, berangkat dulu yah,” jawab Laras.

“Hati-hati di jalan!”

“Beres, mah”

Tak ada yang aneh dan tak ada firasat padanya hari itu. Dia pun pergi ke mini market tempat dirinya bekerja. Menyapa teman-temannya mencatat barang-barang hingga kemudian datanglah seorang yang sangat asing baginya. Berbelanja atau lebih tepatnya pura-pura berbelanja di mini market itu. Dia adalah ayahnya Rangga.

Sang ayah mendekat ke kasir dan memberikan barang-barang yang dibelinya.

“Ini saja pak? Apa tidak sekalian isi pulsanya?” tanya Laras.

“Tidak, ini saja. Namanya siapa kalau boleh tahu?” tanya Ayahnya Rangga.

“Saya Laras,” sambil menunjukkan tag nama yang ada di dadanya.

“Saya papanya Rangga”

Laras menghentikan aktivitasnya dan menatap wajah lelaki di depannya. Ada rasa gemetar yang dia rasakan ketika menatap wajah yang penuh wibawa itu.

“Saya telah menyelidiki dirimu beberapa waktu ini. Saya tahu semuanya tentang dirimu. Siapa itu Cibi, siapa itu Ningsih. Saya tahu semuanya. Dan saya tidak menginginkan anak saya dekat dengan dirimu. Kumohon dengan sangat jauhilah Rangga. Bukan berarti saya tidak setuju dengan hubungan kalian, tapi saya tak akan sanggup menanggung beban status keluargamu ketika nanti harus menikah dengan Rangga. Maafkan saya,” kata Ayahnya Rangga.

Laras menelan ludah tapi sangat berat. Sepertinya kerongkongannya buntu. Dia menatap lelaki itu dengan tatapan kosong. Ayahnya Rangga kemudian memberikan sebuah amplop kepada Laras.

“Ini sebagai kompensasi, sekalipun ini tak ada artinya kumohon terimalah!” kata Ayahnya Rangga.

“Tidak, tidak pak! Saya tidak bisa menerimanya,” kata Laras. “Saya sendiri tidak tahu Rangga dari keluarga seperti apa. Kami saling mencintai, bukan berarti saya butuh kepada uangnya. Saya tak bisa menerima ini.”

“Kumohon terimalah dan pergilah dari kehidupannya. Apa engkau tak menyadari anak orang bermartabat seperti Rangga harus menikah dengan anak seorang pelacur? Kau sadar apa yang akan terjadi kepada keluarga kami nanti? Siapapun yang punya status seperti keluarga kami tak akan rela anaknya menikah dengan anak seorang pelacur. Nak Laras, maaf. Aku bukan orang yang alim. Bukan pula orang yang sempurna, maafkan saya”

“Kalau bapak inginkan saya menjauhi Rangga, tak apa-apa. Saya akan menjauhi dia, saya tahu diri. Tapi kumohon, jangan beri saya amplop ini. Saya tidak akan menerimanya, berikan saja ke orang lain!” kata Laras.

Papanya Rangga menghela nafas. “Sekali lagi maafkan aku”

Lelaki itu pun kemudian keluar dari mini market itu sambil membawa amplopnya tadi. Ada perasaan sedih di dalam dada Laras. Seharian itu ia lalui dengan tangisan, air matanya seolah-olah tak pernah berhenti jatuh. Bahkan ketika para pembeli menyerahkan barang pembeliannya ke kasir ia melayani mereka sambil menangis.

“Laras, kamu tak apa-apa?” tanya Juni manajer mini market yang waralabanya sudah ada di mana-mana.

Laras masih belum berhenti menangisnya. Matanya mulai memerah. Ia menggeleng kepada Juni.

“Nggak apa-apa tapi koq sesenggukan gitu, udah deh kamu pulang aja yah? Aku berikan ijinnya,” kata Juni. “Nggak enak nanti kalau Pak Doni tahu”

“Makasih…hikss..mbak…makasih…,” kata Laras. Ia pun segera pulang dari mini market Hendrajaya Group tersebut.

Hatinya hancur, perasaannya hancur. Tapi ia dengan cepat menyadari siapa dirinya. Seorang anak haram, dari sebuah hubungan terlarang. Laras harus menerimanya, ia harus kuat. Walaupun mungkin seluruh dunia akan mencelanya setelah ini.

********~o~*********

“Apa maksud papa?!” Rangga meninggikan suaranya.

“Papa tahu siapa dia, dan papa sudah memintanya untuk menjauh darimu,” kata papanya tanpa ekspresi.

“Kenapa papa harus turut campur dalam urusan ini?”

“Rangga, kamu tahu siapa kita? Tak mungkin keluarga kita bakal menerima orang seperti dia, kamu tahu apa yang akan terjadi nanti? Seorang anak terhormat menikahi anak seorang pelacur yang bapaknya saja tidak diketahui?”

“Tapi dia tidak bersalah pah. Apakah hanya gara-gara dosa kedua orang tuanya ia juga harus ikut kena imbas?”

“Rangga, kamu harus tahu imbas dari ini semua bukan cuma papa, adikmu, mamamu, semuanya akan dicemooh. Kita akan dianggap rendah. Sadarlah!”

Rangga makin naik pitam. “Baiklah, baik. Itu yang ingin Rangga inginkan. Rangga akan pergi, Rangga nggak butuh ini semua. Rangga akan pergi dari keluarga ini. Jangan anggap Rangga sebagai anak lagi. Selamat tinggal pa!”

“Rangga, apa yang kamu lakukan?”

Rangga tak mempedulikan kata-kata papanya. Ia segera pergi dari rumahnya itu begitu saja. Tak membawa apapun. Ia keluar dari rumah dengan membanting pintu. Tujuannya satu, ke rumah Laras.

Angin pun membawa awan hitam bergulung-gulung dari arah utara. Awan yang membawa uap air yang sudah tak sabar lagi ingin membasahi bumi yang kering kerontang padahal sudah masuk bulan November. Lambat laun langit pun sudah tidak kuat lagi menampung air, jatuhlah butiran-butiran air dari langit. Dalam satu jam beberapa genangan air pun sudah tercipta di jalan raya membuat para pengendara motor sebagian terperosok di sana. Dua jam kemudian di beberapa sudut bagian kota Jakarta mulai banjir, entah sampai kapan pembangunan saluran air ini akan selesai, ketika orang-orang sudah berteriak dengan banjir yang terjadi bertahun-tahun tanpa ada solusi dari pemerintah setempat.

Rangga tak membawa apa-apa pergi dari rumah. Ia kehujanan, kedinginan dan sekarang berdiri di depan apartemen Laras. Satu-satunya uang adalah satu lembar uang seratus ribu rupiah yang ada di dompetnya. Entah nanti ia akan hidup bagaimana dengan uang segitu. Ia menghirup nafas dalam-dalam sebelum mengetuk pintu kamar apartemen Laras.

Tok! Tok! Tok!

Tak butuh waktu lama untuk Rangga menunggu hingga pintu terbuka. Wajah Laras yang matanya memerah karena menangis seharian pun muncul. Melihat Rangga ia buru-buru menutup pintu, tapi Rangga menahan dengan kakinya.

“Laras, kumohon! Aku sudah tahu semuanya, maafkan papaku. Aku sudah pergi dari keluargaku, aku memilih dirimu,” kata Rangga.

“Rangga, jangan! Aku tak baik buatmu. Apalah aku, aku cuma seorang anak haram, kamu dari keluarga terhormat tak sepantasnya buatku,” Laras kembali menangis.

“Itu menurut mereka, tapi kamu kenapa harus memutuskan sesuatu yang aku sendiri belum memutuskannya? Kamu tak rela aku pergi bukan?”

Laras tak menjawab. Tangisanya makin meledak.

“Ke sinilah, aku akan selalu ada untukmu,” kata Rangga.

Laras membuka pintunya dan langsung memeluk Rangga. Laras menangis di dada Rangga, menumpahkan semua kesedihannya hari itu. Ia tahu tak seharusnya seperti ini, tapi amatlah langka ada orang yang mau menerima dirinya bahkan sampai pergi dari keluarganya. Bukankah cinta itu harus diperjuangkan? Dan akankah ia harus menyia-nyiakan perjuangan Rangga sekarang ini. Rangga pun memegang wajah Laras dan sebuah kecupan hangat di bibirnya membuat perasaan Laras sedikit tenang, walaupun air mata terus berderai di matanya.

Laras bisa merasakan bagaimana Rangga kedinginan, karena bibir Rangga dingin seperti es. Laras pun makin erat memeluk kekasihnya itu. Ia tak mempedulikan bajunya ikut-ikutan basah karenanya.

Semenit kemudian Rangga sudah berada di dalam kamarnya Laras.

“Aku tak punya baju ganti yang cocok, semuanya pakaian cewek,” kata Laras. “Besok aku belikan yah.”

“Hmm…,” Rangga mengangguk. “Maaf, merepotkan aku cuma punya uang seratus ribu perak”

“Udah nggak usah dipikirkan, mandi sanah!”

Rangga menerima sebuah training dan kaos. Tak ada pakaian dalam. Tak masalah menurutnya. Hanya untuk sementara sampai pakaiannya kering. Setelah mandi Laras sudah menyiapkan teh hangat untuk Rangga. Pemuda ini lalu duduk di atas sofa sambil menikmati kehangatan secangkir teh itu.

“Makasih ya,” kata Rangga.

“Udahlah, nggak usah dipikirkan,” kata Laras.

Rangga bisa rileks sejenak setelah menyeruput teh hangat itu. Ia memandang wajah Laras yang juga menatapnya. Laras tersenyum.

“Ngapain lihat-lihat?” tanya Rangga.

“Aneh saja sih kamu ini, orang dengan kekayaan sebanyak itu, kehormatan yang di mata orang baik, rela meninggalkan itu semua untuk orang seperti aku”

Rangga tersenyum. Ia menarik nafas dalam-dalam badannya mulai menghangat karena teh yang ia minum barusan.

“Kita punya satu persoalan sekarang,” kata Laras.

“Hmm?”

“Kamu tidur di mana?” tanya Laras.

“Oh iya, ah aku tidur di mana aja deh, gampang itu,” jawab Rangga.

“Eit, jangan macem-macem lho ya!”

“Macem-macem juga nggak apa-apa, aku udah niat mau nikahi kamu koq”

“Huu…dasar,” Laras menjulurkan lidahnya. Mereka berdua tertawa.

Rangga beranjak dari tempat duduknya, meletakkan cangkir tehnya di meja dan langsung menubruk Laras.

“Eh, eh, eh, ngapain nih?!” tanya Laras.

“Mau merkosa kamu,” jawab Rangga.

“Rangga ah, nggak lucu!” Laras meronta.

Rangga tersenyum kepadanya sambil membelai rambut Laras yang setengah pirang, setengah coklat. “Katakan kepadaku! Apa alasan yang paling tepat untukku agar tidak menciummu saat ini?”

Laras melihat langit-langit eternit kamarnya. “Hmm….karena aku belum gosok gigi?”

“Wrong answer!” Rangga langsung melumat bibir Laras. Laras pun menyambutnya dengan hangat. Dilingkarkannya kedua lengannya ke leher Rangga. Ciuman itu pun makin lama makin panas. Tubuh Rangga pun mulai menghangat ketika lidah mereka bertemu dan saling menghisap. “Lidahmu manis, katanya belum gosok gigi?”

“Nggak tahu, dari sononya kali,” Laras tertawa geli.

“Laras, Aku cinta kamu”

“Ich Libie Dich, Rangga”

“Aku ingin bercinta denganmu malam ini, aku ingin menikahimu Laras”

“Rangga, kamu sudah yakin pilihanmu?”

“Aku tak peduli. Sungguh wajahmu telah menghipnotisku, matamu sungguh telah mengubah diriku, aku tak sanggup lagi menahan gejolak jiwa ini. Kalau memang hidupku hanya sebentar, aku ingin waktuku yang sebentar ini untukmu sayangku”

“Rangga…hhmm”

Mereka berdua pun berciuman lagi, kali ini lebih agresif. Keduanya berguling hingga jatuh ke atas karpet. Laras mendorong Rangga, mereka berdua beranjak. Keduanya sudah dipenuhi oleh nafsu, nafas mereka memburu dan mencari-cari bibir keduanya masing-masing. Apapun yang bisa dicium di kedua tubuh mereka, maka mereka akan menciumnya, lengan pinggang, buah dada Laras, tak luput dari ciuman Rangga saat Laras berdiri. Laras menarik lengan Rangga untuk menuju kamarnya. Pintu kamar di tutup dan Laras langsung mencopot kaosnya. Rangga juga melakukan hal yang serupa. Laras melepaskan celana jinsnya dan dilemparkannya begitu saja.

Rangga lalu memeluk Laras, dicarinya pengait bra milik gadis itu, sambil bibirnya menghisap leher gadis blesteran tersebut. Laras melenguh dan mendesis dengan perlakuan kekasihnya itu. Kejantanannya Rangga sudah siap dan benar-benar mengacung keras. Laras pun akhirnya terlentang di atas tempat tidur. Rangga pun kemudian membantunya melepaskan celana dalam Laras yang berwarna biru muda sebagai satu-satunya penutup tubuhnya yang terakhir. Akhirnya keduanya polos tak menggunakan apa-apa lagi.

Rangga tak ingin tinggal diam begitu saja. Dia segera memuaskan bibirnya dengan buah dada kanan milik Laras, diciumnya benda bulat berujung kecang itu. Puting berwarna merah muda dengan bentuk mengacung itu diciumnya, lalu dilumatnya. Laras yang baru pertama kali merasakannya tentu saja sangat geli. Seumur hidup ia tak pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya.

“Ohhhh….Rangga…aahhh!”

Rangga mempermainkan payudara Laras kiri dan kanan, meremasnya, menjilatinya, dan menghisapnya. Setelah puas, ia pun turun menciumi perut gadis ini dan langsung memuaskan dirinya dengan sebuah tempat di selakangan Laras. Tempat di mana disebut dengan liang surgawi. Tempat di mana kemaluannya akan merasakan sesuatu yang tak pernah ia rasakan sebelumnya, di tempat ini pulalah nantinya calon-calon anaknya akan disemburkan. Rangga sangat takjub melihat daging merah dengan bulu-bulu halus itu.

“Laras, aku baru tahu bentuk wanita seperti ini,” ujar Rangga.

“Hmmm? Iya kah? Aku malu Ngga,” kata Laras.

Rangga seolah tak mempedulikan kata-kata Laras. Ia sudah menciumi tempat pribadi milik Laras itu.

“Ngga…aahhh..kamu apain itu….aoowww!” pekik Laras.

Rangga menjilati bibir kemaluan Laras. Pinggul Laras menggeliat, ia tak kuasa menahan serangan dari Rangga. Rangga merasakan rasa gurih dari cairan yang keluar dari kemaluan kekasihnya itu. Ia tak mempedulikan ketika Laras sampai tubuhnya melengkung terbangun mencoba melihat apa yang dilakukan olehnya di bawah sana.

“Ngga, udah nggak aku nggak tahan Ngga….aahhhkk….udaaaah….aku….aku…..aaaaa ahhkk!”

Squirt pertama Laras. Cairan itu langsung menembak ke wajah Rangga. Rangga tersenyum melihatnya. Nafas Laras terengah-engah ketika gelombang orgasme pertamanya datang. Rangga tak ingin Laras beristirahat sejenak. Ia sudah berada di atas tubuh kekasihnya itu. Dibelainya rambut Laras yang sudah acak-acakan, sambil tangan kirinya memegangi kejantannya yang mulai menyibak bibir kemaluan Laras.

Laras mendesah. Rangga mencari-cari lubang kemaluan Laras, gadis itu pun menuntun ke tempat yang semestinya dengan tangannya. Laras sudah siap, ia mencium Rangga ketika kemaluan Rangga tiba-tiba meluncur masuk ke liang yang sempit. Laras kesakitan. Ekspresi wajahnya berubah walaupun ia memejamkan mata sambil berciuman dengan Rangga, tapi tak bisa menyembunyikan ekspresi rasa sakitnya. Rangga juga tak menyangka kemaluannya langsung masuk sedalam itu, mungkin karena terlalu licin dan kaget karena tadi Laras sedikit menghentak ketika kemaluannya baru masuk sedikit.

Akhirnya batangnya serasa diremas-remas oleh liang senggama Laras. Rangga hanya melenguh dan memejamkan matanya menikmati sensasi lepas perjakanya untuk pertama kali. Laras mencoba menahan semua rasa sakit yang ia terima. Pedih rasanya dan ngilu ketika liang senggamanya penuh dengan ukuran batang Rangga.

Gesekan demi gesekan pun makin liar. Rangga makin bernafsu menyetubuhi Laras. Mereka berdua kini di dalam balutan birahi, saling memeluk, saling mencium, saling menjilat, saling menghisap sementara kedua pinggang mereka saling menggenjot. Buah dada Laras berhimpitan dengan dada Rangga. Keduanya berpelukan erat ketika gelombang orgasme hampir mereka gapai.

“Nggaaa….aku…cinta kamu…!” bisik Laras.

“Ohhh…Laras….jadilah istriku, Laaarrrrasss…..aaahhkk!”

Keduanya menjerit ketika gelombang orgasme datang bersamaan. Rangga sepertinya menumpahkan semuanya ke dalam rahim Laras. Permainan yang sangat panas. Tak pernah Rangga melihat kebahagiaan yang terpancar dari wajah Laras. Malam itu keduanya tidur di dalam satu selimut, saling memeluk satu sama lain.

*******~o~********

Rangga kemudian menikahi Laras. Ningsih tentu saja terkejut dengan hal yang dilakukan oleh Rangga. Sebuah kenekatan karena cinta. Kedua insan ini menikah di bulan Januari. Rangga benar-benar tak kembali lagi ke keluarganya, Laras dan Rangga pun pindah dari apartemen itu ke sebuah rumah kontrakan kecil. Rangga bekerja di sebuah perusahaan BUMN setelah lulus test CPNS. Keduanya dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Putra Nagarawan. Dari sinilah darah Destroyer mulai bangkit.

Ada sesuatu yang sangat aneh ketika Putra Nagarawan lahir dan tidak disadari oleh semuanya. Laras yang saat itu sudah akan melahirkan dengan didampingi suaminya merasakan ada yang aneh dalam dirinya. Darahnya bergejolak, mendidih, bersamaan dengan itu tanpa ia sadari seluruh logam yang ada di sekitar rumah sakit tempat ia bersalin itu melengkung. Mereka sepertinya gembira dan takluk ketika sang Destroyer lahir ke dunia.

Ketika Putra Nagarawan lahir, tangisan pertamanya mematikan cahaya, seketika itu seluruh lampu yang ada di rumah sakit padam semua. Tangisan keduanya menghancurkan tanah, sehingga bersamaan dengan Putra Nagarawan lahir gempa bumi bergemuruh walaupun cuma sebentar. Tangisan ketiganya mengakibatkan api yang ada di sekitar rumah sakit menjadi besar dan membakar. Terutama di dapur, para koki menjadi kaget ketika kompor mereka tiba-tiba apinya membesar bahkan salah satu koki harus terluka bakar akibat hal itu. Namun setelah itu semuanya tenang.

Setelah itu paginya sangat aneh ketika di dapati seluruh tiang listrik yang ada di jalan-jalan semuanya melengkung seperti spiral. Hingga sekarang tak ada yang mengerti kenapa bisa seperti itu, hanya Laras yang mengetahuinya. Tapi yang pasti dunia sudah menyambut sang Destroyer baru. Keturunan dari Thomas van Bosch. Putra Nagarawan.

(bersambung…………)

Author: 

Related Posts