Cerita Sex Kenari Yang Membangkitkan Gairah 06

Cerita Sex Kenari Yang Membangkitkan Gairah 06by masbroon.Cerita Sex Kenari Yang Membangkitkan Gairah 06Kenari Yang Membangkitkan Gairah 06 Sambungan dai bagian 05 Akhirnya aku berhenti pada pinggulnya yang masih tertutup celana dalam. Kutarik pelan CD-nya untuk melepasnya. Diangkatnya pinggulnya dan lepaslah CD penutup itu. Kini di hadapanku terpampang pinggul yang indah, montok, putih dan tidak ada goresan warna hitam sedikit pun. Kubelai-belai dulu pinggul itu. “Oouuhh..!” Setelah itu […]

tumblr_mwlg167KcN1sd3nlpo3_500 tumblr_mzhwgpBHai1s9a18zo2_500 tumblr_n0x2q6wOJv1sd3nlpo1_500Kenari Yang Membangkitkan Gairah 06
Sambungan dai bagian 05

Akhirnya aku berhenti pada pinggulnya yang masih tertutup celana dalam. Kutarik pelan CD-nya untuk melepasnya. Diangkatnya pinggulnya dan lepaslah CD penutup itu. Kini di hadapanku terpampang pinggul yang indah, montok, putih dan tidak ada goresan warna hitam sedikit pun. Kubelai-belai dulu pinggul itu.
“Oouuhh..!”
Setelah itu bibirku pun mendarat di pinggulnya. Sekali lagi kecupan dan jilatanku tidak akan melewatkan satu mili pun bagian kulitnya untuk tidak tersentuk oleh bibir maupun lidahku.

Saat pinggulnya sedikit dinaikkan, dapat kulihat belahan vaginanya yang telah basah oleh cairan birahi Nari yang putih. Kujilat sedikit dan kutelan. Tubuhnya sedikit tersentak seperti terkena sengatan listrik. Langsung kubalik lagi tubuhnya. Sekarang wajahnya berhadapan denganku. Matanya terbuka. Bibirnya sedikit tersenyum. Dipegangnya pipi kananku dengan tangan kirinya. Kutatap sejenak matanya tanpa berkata-kata. Kemudian langsung saja kutundukkan wajahku dan mencium mesra bulu-bulu lembut vaginanya.
“Ooohh..!” suaranya sedikit tertahan.

Kuciumi rambut itu sambil kuhirup wangi baunya. Rambut itu terasa lembut di hidungku. Kuciumi rambut vagina Nari memutari labia mayoranya. Bagian bawah vaginanya sudah banjir oleh cairan birahi. Kecupanku semakin ke dalam, menyentuh labia mayoranya, “Oouughh..!”
Sekarang aku akan lebih sering menggunakan lidahku, menari-nari, menyenggol labia mayora, labia minora, klitoris, saluran kencing, dan juga lubang rahimnya. Cairan yang keluar juga kujilat dan hirup kemudian kutelan. Walaupun rasanya sudah kutelan banyak sekali, tapi cairan itu tetap tidak mau habis, terus saja mengalir.

Sementara itu reaksi Nari semakin menjadi-jadi. Kepalanya menengadah. Matanya terpejam. Mulutnya menganga sambil mengeluarkan nyanyian merdunya, “Oohh.. aahh.. terruuss.. eennak.. eemm.. yyaa.. sshh.. oouugghh..!”
Sementara itu dadanya naik turun dengan cepat diikuti dengan naik turunnya punggung Nari. Pinggulnya juga ikut bergoyang-goyang. Tangannya mencengkeram erat rambutku dan menekannya dengan kuat ke arah vaginanya. Aku terus menjilat sambil menyedot-nyedot klitorisnya.

Gerakan Nari semakin liar. “Oouughh..!” suaranya semakin keras.
“Ayo Sayang.. lebih cepat lagi.. lebih keras lagi.. iyyak.. begitu.. teruus.. teruuss.. aakkuu.. mmauu.. nyaammppee.. oogghh..!”
Nari mencapi orgasmenya yang pertama. Cengkeraman jarinya semakin kuat. Kedua pahanya menjepit kepalaku. Kakinya menegang. Napasku semakin susah kuhirup. Tapi aku tidak perduli. Aku masih ingin memberikan orgasme yang beruntun buat Nari. Lidahku semakin seru menjilat dan menghisap klitorisnya.

“Hhhgg.. hhaa..!” Yah..! Orgasme Nari datang lagi. Tapi lidahku semakin kencang lagi.. lagi.. dan lagi.
“Oohh.., toongg.. aakkuu nggakk kkuuaatt laggii.. aakkhh..!” orgasmenya yang ketiga melanda tubuh Nari.
Dia langsung melepaskan cengkeraman di rambutku, jepitan pahanya di kepalaku dan kakinya langsung dia selonjorkan. Napasnya naik turun. Buah dadanya yang tegang dan montok dengan puting yang mencuat indah itu naik turun mengikuti irama napasnya. Keringat membasahi tubuhnya. Aku pun juga menyeka keringat yang mengalir deras di keningku sambil menjilati sampai habis cairan vagina Nari yang menempel di bibirku.

Kucium keningnya, kucium pipi kanannya, pipi kirinya, hidungnya dan terakhir bibirnya. Kubisikkan kata yang lembut di telinganya, “I love you so much, honey.”
Dia kemudian memeluk tubuhku. Kubalas pelukannya.

Tiba-tiba saja dia bangun dan berbalik. Kali ini tubuhku di bawah, dan tubuhnya di atasku. Dia langsung menciumi telingaku. Kemudian turun ke leherku. Terus ke arah dadaku. Aku benar-benar menikmati rangsangannya. Jari-jari lembut Nari bermain-main di atas putingku dan rambut halus yang tumbuh di sekitar pusarku. Ciumannya tidak meninggalkan bagian terkecil pun dari bagian depan tubuhku. Ciumannya terus turun ke arah perut bawahku yang tidak jauh dari penisku bersarang. Geli sekali aku merasakannya.

Akhirnya dia menciumi penisku yang telah tegang sekali dari luar celana dalam yang masih terpakai olehku. Dicium sambil dibelainya dengan lembut. Tidak lama kemudian ditariknya karet celana dalamku. Kubantu dengan sedikit mengangkat pinggulku, maka loloslah celana dalam itu melalui kedua kakiku. Tampaklah di hadapan Nari penis kebanggaanku. Tegak menantang, dengan guratan-guratan otot di sekitarnya. Nari langsung membelainya dengan lembut. Kali ini matanya nyaris tidak berkedip sedikit pun melihat senjata kebanggaanku itu.
“Sshh..!” desisku.

Seperti anak kecil yang lama tidak makan ice cream, Nari langsung mengulum penisku seperti dia mengulum ice cream.
“Oouuhh..!” penisku yang besar itu tidak muat di mulutnya, hanya kepala penisku saja yang masuk ke dalam mulutnya.
Tapi bagiku itu sudah cukup, karena dengan lidahnya yang lembut Nari memberi rangsangan yang hebat pada bagian kepala penisku itu. Aku langsung menggelepar-gelepar seperti ikan yang kehabisan air.

Kedua tangannya bergantian membelai, menggosok, dan mengocok batang penisku. Sementara mulutnya juga tidak henti-hentinya mencium, menjilat, mengulum, dan menyedot kepala penisku. Aku terasa terbang dibuatnya.
“Sayaanngg.., aakkuu maauu kelluuar..!”
Tiba-tiba saja Nari menghentikan aktifitasnya. Jari-jarinya seolah mencekik kepala penisku.
“Jangan dikeluarkan dulu ya Sayaang..!” begitu Nari berkata.

Kemudian dengan tangan masih memegang penisku, Nari berbaring di sampingku. Dia memintaku untuk berada di atas tubuhnya. Nari membuka lebar kedua pahanya. Nampak vagina Nari yang tertutup oleh rimbunan rambut hitam yang lebat itu menganga lebar. Cairan birahinya masih terlihat berkilau karena banyaknya. Dia menarik dan membimbing penisku untuk mendekati vaginanya. Digesek-gesekkannya penisku pada bibir vaginanya. Matanya merem melek.

“Itong Sayang.. Selama ini kamu telah membuktikan janjimu.. Kamu telah menjaga dengan baik barang berhargaku ini sampai kita menikah. Tapi takdir berkata lain, aku harus menikah dengan orang lain. Tapi aku tidak akan memberikan barang yang telah kau jaga ini pada dia. Kamu lah yang lebih berhak, kamu lah yang memilikinya. Ambillah Tong.., ambillah.., Nari sayaang sama Itong..!”
Kutatap tajam matanya, seolah tidak percaya aku mendengarnya.
“Nari..?”
Nari tidak menjawab. Dia hanya mengangguk dan membimbing penisku untuk lebih masuk ke dalam vaginanya.

Kutundukkan kepalaku mendekati wajahnya.
“Nari.. I do loove you..!”
Kucium bibirnya. Dibalasnya ciumanku. Bersamaan dengan itu pula kutekan dengan pelan, sedikit demi sedikit penisku memasuki vaginanya. Seret sekali rasanya, karena ini yang pertama kali bagi Nari. Namun karena cairan vagina yang keluar dari mulut vaginanya cukup banyak, maka ini membantu penisku untuk lebih lancar memasukinya. Pelaan sekali aku melakukannya karena aku tidak ingin menyakitinya. Sementara itu bibir kami masih tetap saling berciuman.

Hal ini dapat kami lakukan karena tinggi badan kami tidak beda jauh, bahkan nyaris sama. Tiba-tiba ujung penisku terasa menyentuh sesuatu. Seperti ada tulang rawan dengan lubang kecil di tengahnya menghalangi jalan penisku. Inikah yang disebut dengan selaput dara. Belum sempat berpikir panjang, pinggulku dipegang oleh kedua telapak Nari. Kemudian dengan sedikit hentakan, dia menekan pinggulku agar lebih dalam dan kuat masuknya. Kuikuti saja keinginannya.

“Eegghh..!” suara itu keluar dari dalam mulut Nari sambil dia gigit bibirku.
Agak sakit juga sih. Tapi aku berpikir itu adalah reaksi Nari terhadap tembusnya selaput dara oleh penisku yang baru saja terjadi. Memang menurut sebagian besar wanita, pada saat tembusnya selaput dara untuk pertama kali akan dirasakan sakit. Tapi tangan Nari masih tetap menekan pinggulku sampai akhirnya rambut-rambut kemaluan kami bersatu dan pangkal paha kami bertemu. Kudiamkan penisku agar tidak bergerak-gerak terlebih dahulu di dalam vaginanya untuk memberikan kesempatan kepada vaginanya agar hilang rasa sakit akibat sobeknya selaput dara. Aku merasakan betapa hangatnya liang rahim Nari. Sementara itu bibir kami masih saling melumat.

Setelah kuanggap cukup dan Nari sudah agak sedikit tenang, kulepaskan ciuman kami. Kuangkat sedikit tubuhku, kulirik ke bawah. Oh indahnya persetubuhan ini. Aku juga melihat ada darah di sana. Terima kasih Nari, kamu telah menyerahkan barang berhargamu itu kepadaku. Kemudian dengan bertumpu pada kedua sikuku dan dilingkarkannya kedua kaki Nari pada pahaku, aku mulai dengan sangat pelan menarik penisku.

“Oohh..!” mata Nari mendelik sesaat, kemudian melihat ke atas dan terpejam sambil mulutnya menganga dan tubuhnya melengkung ke atas membuat buat dadanya juga ikut terangkat ke atas.
Kuciumi sejenak buah dada dan puting itu. Kali ini aku konsentrasi pada gerakan pinggulku yang akan menaikkan dan menurunkan penisku guna menggesek dinding vagina Nari.

Setelah hampir 3/4 bagian penisku kutarik, kemudian kudorong kembali pelan-pelan.
“Oohh..!” kembali Nari menunjukkan reaksinya.
Tangannya mencengkeram erat pinggiran bantal yang dipakainya. Gerakan ini kulakukan terus, naik, turun, sampai benar-benar kurasakan dinding vagina Nari terasa licin dan dapat menyesuaikan diri dengan ukuran penisku. Gerakanku pun semakin cepat, sementara reaksi Nari pun juga semakin menjadi-jadi. Matanya masih tetap terpejam, mulut masih mengeluarkan suara-suara kenikmatannya.

Kepalanya menoleh ke kanan dan ke kiri, bahkan kadang seperti sengaja dibanting ke bantal. Dadanya naik turun karena punggungnya yang melengkung-melengkung. Pinggulnya ikut bergoyang mengikuti irama keluar masuknya penisku dalam vaginanya.
“Ohh Tong..! Eennak sekali.. oohh..!”
Aku pun masih bersemangat dan menikmati persetubuhan ini. Sekali-sekali mulutku mencium buah dadanya, pipinya, lehernya, juga mulutnya.
“Ooghh.. ya.., terus Sayang..! Yah.., enak.., lebih cepat laggii.. iyyak.. teruuss.. teruss.. akuu maauu nyaampee..!”

Bersamaan dengan itu pula aku merasakan spermaku mengalir cepat melalui saluran-salurannya yang ada di penisku, dan terasa sudah di ujung kepala penisku. Aku berharap kami dapat menyempurnakan persetubuhan pertama kami ini dengan menikmati datangnya orgasme secara bersama-sama. Dan ternyata benar..! Saat Nari semakin erat mencengkeram bantalnya dan jepitan kakinya pun juga semakin kencang juga jeritannya semakin keras dan panjang, kusemprotkan bibit cinta kasihku kepada Nari ke dalam dinding rahim Nari.

“Oouugghh..!” kami melenguh bersama-sama, panjang dan nikmat.
Kurasakan penisku berdenyut-denyut menyemprotkan sperma ke dalam vagina Nari. Dapat kurasakan juga kontraksi yang dialami oleh dinding rahim Nari. Menjepit, meremas, mengurut, dan menyedot penisku, seakan-akan ingin menguras habis sperma yang kukeluarkan dari ujung kepala penisku. Peluh kami bercucuran. Lemas sudah tenaga kami. Seakan terlepas semua persendian tulang kami.

Tidak pernah kami nikmati kenikmatan di dunia ini selain kenikmatan yang baru saja kami rasakan. Dengan masih sedikit kutahan dengan kedua tanganku, aku ambruk di atas tubuh Nari. Napasku memburu di samping telinganya. Demikian juga Nari. Tangannya dirangkulkan di leherku. Dibelai-belainya rambutku. Dari telingaku yang menempel dekat mulutnya dapat kudengar Nari terisak.

Kuangkat kepalaku untuk melihat wajahnya. Benar, dari kedua matanya mengalir air mata. Air mata bahagia sekaligus air mata duka. Bahagia karena dia telah menyerahkan ‘mahkota’-nya yang sangat berharga kepada orang yang sangat dicintainya sekaligus duka karena kami tidak akan dapat merasakannya lagi karena setelah ini dia harus pergi. Melihat air matanya, aku pun tidak merasa kalau mataku juga berkaca-kaca dan akhirnya jatuhlah air mataku di wajahnya.

Suara tangisnya tidak dapat ditahan. Dia menangis sambil menarik leherku dan mencium bibirku.
Dalam hatiku aku juga menangis, “Tuhan.., kenapa Engkau memisahkan kami..? Dua anak manusia yang saling mencintai, yang saling mengasihi.”
Tubuh kami kembali menyatu. Penisku belum kucabut dari vagina Nari. Kami saling mencium dan membelai serta mengucapkan kata-kata cinta kami.

Akhirnya perpisahan itu tidak dapat kuhindari. Setelah kami mandi bersama untuk membersihkan diri kami masing-masing, Nari bersiap untuk pergi meninggalkan rumahku. Sebelumnya kukalungkan di lehernya sebuah kalung dengan bandul yang terdapat hiasan dua ekor burung merpati yang sedang terbang berdampingan, merpati yang melambangkan cinta suci kami berdua.

Kalung itu memang telah kusiapkan untuk peringatan 2 tahun hubungan kami yang jatuh pada bulan depan. Tapi karena dia akan pergi sekarang, maka kalung itu kulingkarkan di lehernya sekarang juga. Juga tidak lupa mawar merah. Kali ini semua batang mawar yang ada di halaman rumahku kupetik, baik yang masih kuncup maupun sudah mekar, berapa pun jumlahnya. Mata Nari hanya berkaca-kaca, mulutnya sudah tidak sanggup lagi mengeluarkan kata-kata. Demikian juga aku.

Akhirnya ciuman perpisahan mengakhiri pertemuan kami pagi sampai siang hari ini. Walaupun tanpa mengeluarkan kata-kata, aku yakin kami berdua saling mengatakan, “Selamat Jalan Sayangku, Selamat Jalan Cintaku. Cinta yang abadi tak kan hilang hanya karena kita berbeda jarak, tak kan hilang karena kita terpaksa harus berpasangan dengan orang lain, tak kan hilang oleh waktu, tapi cinta yang suci selalu bersemi di dalam hati sanubari dua insan yang saling mengasihi, sampai mati.”

Nari dengan cepat hilang di balik pintu rumahku yang dia buka sendiri, sementara aku terpaku di belakangnya tanpa sanggup menghalangi kepergiannya.

TAMAT

Author: 

Related Posts