Cerita Sex Seks Itu Nikmat – Part 4

Cerita Sex Seks Itu Nikmat – Part 4by masbroon.Cerita Sex Seks Itu Nikmat – Part 413 Sin : Seks Itu Nikmat – Part 4 ======= 4th sin: Run Bitch Run (Liana stories) ======= . . Seperti malam-malam sebelum nya tidurku tidak pernah nyenyak. Selalu terbangun tiba-tiba seperti malam ini. Tapi kenapa tiba-tiba aku begitu kangen dengan ci Fany padahal baru beberapa hari dia kesini.. . Namaku Liana, saat ini aku […]

tumblr_nrc09yOQH41uojbg9o1_540tumblr_nqlf90vyRX1u10ny7o10_400 tumblr_nrc18qHOwM1uxxmymo1_50013 Sin : Seks Itu Nikmat – Part 4

=======
4th sin: Run Bitch Run
(Liana stories)
=======
.
.
Seperti malam-malam sebelum nya tidurku tidak pernah nyenyak. Selalu terbangun tiba-tiba seperti malam ini. Tapi kenapa tiba-tiba aku begitu kangen dengan ci Fany padahal baru beberapa hari dia kesini..
.
Namaku Liana, saat ini aku sedang menjalani rehabilitasi narkoba, disebuah panti di kawasan bogor, kini sudah dalam tahap pemulihan sekarang, namun aku belum bisa pulang, aku adalah anak kedua, dan kakakku Stefany lah yang menanggung semua biaya perawatanku disini, tekadku setelah keluar dari sini aku ingin membalas semua yang telah ia lakukan kepadaku, aku tak ingin mengecewakan ci fany dan mama lagi.
.
“apa ini..” aku heran ketika melihat ada amplop coklat dimeja samping tempat tidurku, didepan tertulis ditujukan padaku. Siapa yang menaruhnya malam-malam gini, penasaran kubuka amplop itu, ternyata isi nya sebuah handphone dan kertas kecil bertuliskan “aktifkan telpon ini jika anda, ingin menyelamatkan kakak anda..” apa ini pikirku, dan menekan tombol power di selpon itu, dan tak lama setelah aktif, sebuah kiriman gambar masuk, gambar yang membuatku nyaris menjerit, ci fany tergeletak dilantai, dalam kondisi bugil dan badan penuh lebam.
.
“tet..tet..tet..” ada panggilan masuk,
“selamat malam nona Liana, waktu anda tidak banyak, jika anda ingin menolong kakak anda, sebaiknya cepat keluar dari tempat ini, waktu anda tidak banyak..”..
.
“apa-apa’an ini, aku akan melaporkan semua ini…” teriakku.
.
“anda pikir ada yang percaya, dengan perkataan pecandu seperti anda..”
.
“akan ku tunjuk..” semula aku bermaksud menunjukan foto kiriman tadi, tapi entah kenapa foto itu hilang dilayar hp.
“siapa anda ?” tanyaku pada penelpon itu.
.
“pertanyaan anda bisa di ajukan lain waktu, sekarang anda harus bergegas, kakak anda sedang meregang nyawa..” perkataan yang sungguh membuatku bingung…
Tapi jika ini semua benar dan ci Fanny dalam bahaya, aku akan sangat menyesal nanti, segera kubuka lemari kecil dibawah meja, mengambil satu-satunya pakaian bebas yang ada disitu, sebuah celana pendek jeans dan kaos putih, kulihat jam sudah menunjuk angka 1 lewat 5 menit, ruang pemulihan terletak terpisah dari bangunan utama, dan pengawasannya pun tidak seketat ruang perawatan, jarang sekali ada kontrol suster dimalam hari. Apalagi sudah selarut ini, aku menyusuri selasar ke arah belakang, tujuanku gudang penyimpanan barang, aku pernah melihat tangga disini.. Dan ternyata memang ada, lumayan berat tangga ini, tujuanku tembok belakang, tapi tentu tidak mungkin aku membawa tangga melewati halaman belakang, aku tahu ada cctv disana. Satu-satu nya cara ialah naik keatap gudang ini, dan turun dari sisi kanan..
Naik ke atap gudang tidak masalah yang berat ialah mengangkat tangga dan membawanya kesisi gudang untuk turun.. “ah sial ternyata sisi luar gudang ini sebuah sungai kecil, untunglah sinarbulan lumayan terang sehingga aku bisa melihatnya, ku taruh tangga berat itu disisi sungai, perlahan aku turun, karena pijakan tanah di tempat tangga ini sangat sempit, dua step lagi, dan “byuuur….” tanah tempat tangga itu longsor, aku langsung tercebur kesungai kecil, dan untunglah tangganya jatuh berlawanan arah tidak menimpaku. Takut ada yang mendengar, aku segera bangkit, tanpa memperdulikan keadaanku yang basahkuyup, aku berlari menyusuri pematang sawah, menjauh dari komplek panti rehab.
.
Untunglah telpon ini tidak mati terkena air, kuhubungi balik nomor tadi, ” aku sudah keluar dari panti, sekarang aku harus kemana?” tanyaku.
.
“anda harus bisa sampai jakarta, setelah disana kami akan arahkan anda harus kemana..” jawab orang ditelepon itu..
.
Bagaimana mungkin aku bisa sampai jakarta, ke tempat keramaian terdekat saja, aku tidak tahu kemana jalannya.
.
Kususuri pematang itu, hingga aku sampai di ladang bayam atau kangkung entahlah aku tak jelas, tapi diseberang ladang sana ada cahaya dan juga ada orang, aku mempercepat langkahku menuju tempat itu, ternyata itu orang yang sedang memuat sayur ke mobil bak, dan mereka terkejut ketika melihatku. “permisi pak boleh saya ikut..?” tanyaku dengan nafas ngos-ngosan karena tadi sedikit berlari, mereka masih terdiam dan menatapku lalu saling pandang.
.
.
Tiba-tiba orang ketiga datang..
“bukannya pada naek lagi eh..siapa nih” tanya orang yang seperti nya supir itu.
.
“ini mad, tau dari mana dateng nya si eneng mau ngikut..” kata pria yang paling tua diantara mereka bertiga itu.
.
“emang mau kemana neng..?” tanya si sopir
.
” mau ke jakarta pak, tapi kalau ga bisa ke terminal terdekat juga ga apa.. Tolong pak saya butuh tumpangan..” kataku dengan nada sedikit memohon..
.
“sebenernya kita juga mau ke Jakarta, ke pasar induk, tapi neng mau dimana, ini udah bertiga, masa mau diatas tumpukan sayuran..” kata orang yang paling tua itu..
.
“kecuali neng mau dipangku..” celetuk si sopir.
.
Gila aja pikirku dari sini ke Jakarta lebih dari dua jam, dipangku abang- abang ini, tapi ini satu-satunya kesempatan yang ada sekarang.
“oke ga apa, yang penting saya boleh ikut.”kataku menyanggupi.
“ayo kalo gitu,..” kata si sopir. Namun baru saja aku hendak naik “tunggu-tunggu, lah si eneng basah-basah gini.. Nanti bisa ikutan basah mamang neng..” protes si pria tua itu, “luh mau tong, mangku si eneng basah-basah gini..?” lanjutnya bertanya pada si pemuda yang dari tadi diam.. “ogah ah, dingin-dingin gini” jawab si pemuda itu..
.
“lalu saya harus gimana mang, saya ga bawa baju ganti…” kataku, andai saja situasi lebih memihakku rasanya ingin segera ku pergi dari orang-orang ini.
.
“gini aja, nih neng pake sarung mamang aja, baju dan celana neng diikat di atas kap, tar juga kena angin kering pas sampe Jakarta..” si pria itu berkata sambil menyerahkan kain sarung, “ayo mau ga, kita udah harus berangkat, kalo ga mau, ya udah neng cari tumpangan lain.!” katanya lagi ketika aku masih diam.. Sial pikirku kuambil sarung itu dan berjalan kebelakang mobil bak itu, dan rupa nya ini memang bukan hariku, karena baru kusadari, aku tidak mengenakan bra. “ayo cepetan neng..” suara pria itu..
.
Sarung itu tidak mampu menutupi seluruh tubuhku, bagian atas menyisakan sepertiga buah dada 34c ku, dan bawah hanya melewati sedikit pantatku dan pahaku terbuka lebar, kendati ini gelap, namun senyum mesum penuh kemenangan terlihat diwajah pria-pria itu.
“kasih si entong neng pakaiannya, biar di iket di atas kap..” kata sipria tua itu, sambil menaiki mobil, “ayo sini neng..” panggilnya sambil menepuk paha nya. Dan akupun naik, duduk dipangkuannya, tak lama si entong pun naik, dan mobilpun berangkat.
.
Hari masih gelap jam dihp yang kupegang menunjukan pukul 2 pagi,.
“nama neng siapa..?” tanya si sopir..
.
“Lian pak..” jawabku
.
“saya Somad, dan ini mang Karta, nah itu si Entong, kenek saya, mang Karta yang punya sayuran ini..” katanya sambil mengemudi.
.
“neng Lian kabur dari panti ya..?” tanya mang Karta tiba-tiba,
“wah gawat neng, nanti kita bisa-bisa dituduh terlibat..” timpal pak Somad. .
“tolong pak, saya harus tiba segera di Jakarta..!” kataku.
.
“ini resikonya besar neng, kita bisa bantu tapi, ya si eneng ngertiin kita juga lah..” mang karta berkata sambil tangannya memegang pundakku yang terbuka, aku sudah tahu kemana arah pembicaraan ini.
.
“jangan mang.. Tolong..” aku berusaha menolak ketika tangannya berusaha menurunkan sarung yang menutup bagian dadaku.. “ini mamang udah nolongin neng kabur, sekarang giliran neng nolong mang Karta, emang mau dianterin ke Panti lagi..?” ancamnya. Tak ada pilihan buatku, kubiarkan tangan kasar nya itu menurunkan sarung penutup dadaku.
.
“montok banget teteknya nya neng…” kata pak somad,
.
“alus, lembut juga mad..” timpal mang Karta.
.
“iya mang..” lanjut pak Somad, sambil tangan kirinya memegang dada kananku..
.
“akhh.” aku tersentak saat tangan-tangan itu meremas dadaku.
.
“udah pernah dikenyot belum nih tetek neng..?” tanya mang karta, aku diam tak menjawab.. “ayo jawab..!” tanya nya lagi sambil meremas kencang dadaku.
“iya.. Iya..!” jawabku.
“iya apa..?” remasannya semakin mencengkram dadaku.
“iya udah pernah..” jawabku. serentak mereka tertawa..
“dasar cewe kota, gede dikit langsung jadi lonte..” hina pak somad.
.
Kali ini mereka mulai menggerayangi bagian bawahku, mengelus pahaku terus menelusup keselangkanganku. “cangcutnya lepas neng, cangcut basah gini dipake, kasian tuh memek kedinginan.” mang Karta memelorotkan celana dalamku, tak hanya itu, kain sarung yang kupakaipun turut dipelorotkan, kini aku telanjang bulat dipangku lelaki itu, dimana aku mulai bisa merasakan tonjolan keras dicelana nya.
.
Kedua kakiku direnggangkan, kali ini si Entong yang sedari tadi diam turut ambil bagian mengelus pahaku.. Merayap ke selangkanganku, “jembutnya banyak banget mang.” guman si Entong sambil, mengelus bulu-bulu diatas memekku,
“tau nih, cewe kota tapi jembut nya, ga diurus” timpal mang Karta.
Sok tau banget tuh orang, orang lagi direhab mana mungkin ngurusin jembut, nahan rasa sakit karena sakau aja dah setengah mati .
.
“neng udah sering dikontolin ya?” tanya pak Somad.
.
“ya ” jawabku singkat,
.
“cewe kota kaya gini mah, dah kenyang ngewe mad, paling jg kerjaan nya tiap hari cuma mabok ma ngentot doang..” lanjut mang Karta.
.
Sial banget nih orang omongannya, tapi emang bener juga sih, hari-hariku dulu seperti itu, bahkan sampai drop out dari kuliah, untunglah ada ci Fany yang sabar menasehatiku dan rela bekerja keras untuk biaya rehabku.
.
“awww.” lamunanku terhenti ketika kurasakan cubitan diklitorisku, “sakit tau” protesku.
.
“habis itil nya neng kepanjangan seh, bikin mamang gemes” katanya sambil cengar-cengir.
.
“lah, lu ngapain berenti mad..?” protes Mang Karta ketika pak Somad menghentikan mobil.
“saya juga mau mang, ngerasain tuh memek, udah kita turun aja, mumpung masih sepi, tong luh gelar tuh terpal, ayo neng turun..” ajak pak Somad.
.
“ini pinggir jalan pak, mau ngapain kita kesini, kalo ada orang gimana?” tanyaku
.
” ya mau ngewein eneng lah, mumpung jalan masih sepi neng makanya buruan telentang sono, cepat!” perintah pak Somad aku sadar aku tidak bisa menghindar dari hal ini, akhirnya kurebahkan tubuhku diterpal plastik yang digelar diatas rumput itu, “tong lu jaga dulu sono..” perintah pak Somad.
.
“gua dulu ya mad, ga sabar gua pengen jilatin memek nih amoy..” kata mang Karta yang sudah melepas celana nya. Menampakan kontol nya yang tampak sudah tegang itu ” ya sono, makan tuh memek.” jawab pak Somad.
.
Mang Karta memposisikan diri telungkup diantara kedua kakiku dimana kepalanya tepat dikemaluanku, dan sesaat kemudian aku sudah bisa merasakan sentuhan basah lidahnya menyusuri belahanku itu. “akkhh…” aku mendesis lirih..
.
“ajib mad, memek nya enak.. Ga kaya punya bini gua, bau terasi…”
.
“puas-puasin dah mang, makan tuh memek sampe lepek..” timpal pak Somad.
.
Sentuhan lidah itu benar-benar membuatku lupa akan masalah lain, birahiku semakin naik, ketika lidah nya mengulas klitorisku, menyelusup kedalam rongga memekku, dan ketika cairan yang membasahi memekku disruput nya habis, ah nikmat
.
“woi mang, udah masukin tuh kontol, jangan dijilatin mulu tuh memek..”
.
“ah luh mad ga bisa liat orang senang” ucapnya sambil bangkit dan merubah posisi, menaruh ujung kontol nya di celah bibir memekku, digesek-gesekan keatas kebawah dan “blesss..” ditekan semua masuk..”akhh..” aku sedikit menjerit menerima hujaman itu.
.
“isep kontol gua neng..” kata pak Somad yang tanpa kusadari sudah ada disebelahku dan menyodorkan batangnya tepat dimulutku, akupun langsung membuka mulut dan batang itu langsung menerobos masuk mengisi rongga mulutku, aku pun mulai menghisapnya dalam-dalam.
.
“akhh.. Gila mang, isepannya, kalah dah lonte pasar induk.. Enak banget..” guman pak somad, sial nih orang aku disamain sama lonte pasar, kugigit sedikit batangnya “akh..” ia menjerit kecil,
.
Selama dirawat di panti, aku sudah tidak pernah merasakan seks lagi, namun kini dua batang yang lumayan panjang dan besar sedang menghujamiku, sungguh terasa nikmat sekali, sambil terus menghisap aku menggerakan pinggulku sesekali mengimbangi sodokan kontol dimemekku, gerakan mang Karta semakin cepat dan ia meremas dadaku dengan kuat sebelum akhirnya berteriak “arggh.. Enak banget nih memek.. Ngecret guaaa…” teriaknya bersamaan dengan muncratnya cairan hangat kental dilubangku.
.
Mengetahui mang Karta sudah selesai, pak Somad langsung menggantikan posisi nya, dan kontol nya langsung dibenamkan kememekku yang penuh cairan pejuh mang Karta, gerakan nya sangat cepat, menimbulkan suara-suara becek..
”akh..akh..akh..” suaranya diantara dengusan nafas yang memburu.
.
Dan akupun mulai merasakan puncak orgasmeku, tubuhku mengejang, terangkat dan akhirnya sebuah sensasi nikmat menggapaiku.. “ah..ah.. Luh dah ngecret moy.. Nih gua tambahin biar makin bajir memek luh..” teriak pak Somad terus memompaku dan akhirnya kembali memekku disiram cairan kental yang muncrat dari batangnya.. Kami terkapar dalam kelelahan.
.
“ayo mad jalan lagi dah mau pagi..” ajak mang Karta..
.
“lah saya belum mang..” Protes si entong.
.
“dah tar lu dimobil aja, dagangan gua bisa ga laku kalo kesiangan” jawab mang Karta.
Setelah bersih-bersih seadanya dengan menggunakan kain sarung yang tadi kupakai, kami melanjutkan perjalanan, aku sudah memakai bajuku, namun tetap tanpa celana, begitu juga sientong, aku duduk dipangkuan sientong dimana kontolnya menusuk memekku..
.
“ayo neng, goyang naek turun..” pintanya..
.
“ga kuat saya lemes banget.” kataku..
.
Namun rupanya si Entong ini lumayan kuat juga tenaganya, diangkatnya pantatku agar sedikit nungging dan aku terpaksa menahan badanku dengan kedua tanganku ke dashboard mobil, dalam posisi ini si entong bisa menggerakan kontolnya keluar masuk dimemekku sementara kedua tangannya menahan pantatku..
“ah..ah..ah…” suaranya..
.
“terus tong, hajar sampe lobeh..” teriak pak Somad menyemangati.
.
Posisi ini benar-benar membuatku pegal, untunglah si Entong tak bertahan lama, tak sampai 10menit ia sudah keluar.. Segera kupakai celanaku mencegah yang 2 lagi meminta nambah..
.
” tet..tet..tet..” telpon berbunyi ketika memasuki Jakarta.
“pagi nona liana, akhirnya anda berhasil mencapai jakarta, turunlah di halte sebelum lampu merah..” orang itu memberi perintah, bagaimana ia bisa tahu aku sudah sampai Jakarta..
.
Sesuai instruksi nya aku turun di halte itu..
“aku sudah dihalte..” kataku ditelpon.
.
“berjalanlah ke tempat parkir disebrang jalan, disana ada mobil berwarna hitam dimana kunci nya juga ada disitu, gunakan mobil itu untuk mencapai dimana kakak anda berada sekarang, gps di mobil akan menunjukan arah yang harus anda lewati..” jelasnya
.
Kuseberangi jalan yang masih sepi ini, ternyata benar di area parkir taman ini ada sebuah mobil yang cirinya sama dengan yang dibilang pria penelpon tadi.
.
Sesuai petunjuk arah Gps dimobil, aku mengendarai mobil mengikuti arah di layar gps itu yang menuntunku ke kawasan tengah kota, dan akhirnya berakhir tepat didepan sebuah hotel.
.
Ya aku ingat di gambar semalam memang seperti dikamar hotel., tapi kenapa banyak polisi didepan hotel ini, ada ambulan juga, lalu kulihat ada yang menggotong tandu dari dalam hotel, jangan-jangan ci Fany.. Aku segera berlari menerobos hadangan beberapa orang, dan polisi, ketika sampai didepan tandu itu, langsung kubuka kain putih penutup itu…

Author: 

Related Posts